|
| |
Bentara Christian Science, yaitu sebuah majalah triwulanan, telah ditujukan untuk para pembaca yang menaruh minat pada penyembuhan dan ide-ide rohaniah. Majalah ini memuat artikel-artikel dan kesaksian-kesaksian yang ditulis oleh para Ahli Ilmupengetahuan Kristen* yang menyampaikan contoh-contoh praktis tentang bagaimana suatu pengertian akan TUHAN telah membantu hidup mereka. Informasi tentang bagaimana berlangganan Bentara ini dapat diperoleh setelah artikel berikut ini. Artikel ini berupa sebuah contoh tentang apa yang dapat Anda baca dalam majalah Bentara. |
| |
|
*Christian Science (krisc´n saiens)
Dijaga, dikasihi, dilindungi Mario Tosto
Kita berdiri langsung di bawah sinar matahari kasih Allah, sekarang juga. Dan dalam kasih ini, kita aman dan dikawal.Meskipun demikian, sinar ini tidak hanya menyinari kita saja. Diri kita sendiri masing-masing adalah seberkas sinar. Kecemerlangan Allah yang tidak terpadamkan, sumber cahaya akan ciptaan, adalah jumlah seluruh berkas sinar. Setiap berkas merupakan penyataan yang khas dalam spektrum Kasih ilahi. Dalam setiap orang di antara kita tercakup kecerdasan, keselarasan, keabadian, keutuhan, tata, dan sukacita. Dengan perkataan lain, segala-galanya yang merupakan sifat Allah, dinyatakan secara wajar oleh manusia—ide rohaniahNya. Fakta ini merupakan dasar semua penjagaan, kasih, dan perlindungan yang diperlukan oleh setiap orang di antara kita, untuk selama-lamanya. Sebagaimana sifat Allah tidak berubah-ubah, demikian pula sifat semua ciptaan Allah telah ditetapkan secara abadi. Tidak ada kekuasaan atau asas atau orang yang dapat mengubah kebenaran itu. Mary Baker Eddy menulis, “Dalam Ilmupengetahuan [Kristen], tidak ada kejatuhan dalam wujud manusia karena tidak ada gambar Allah yang terbalik di sana, tidak ada yang dapat menghindar dari pancaran sinar yang berfokus pada yang tidak berhingga” (No and Yes, hlm. 17). Seperti yang dinyatakan dalam naskah pertama tentang ciptaan dalam Alkitab: “Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. . . . Demikianlah diselesaikan langit dan bumi dan segala isinya” (Kejadian 1:31; 2:1). Banyak orang tidak menyadari bahwa ceritera tentang ciptaan yang diterima secara umum—ceritera tentang Adam dan Hawa—sebetulnya baru dimulai pada bab kedua Kitab Kejadian. Demikan pula, mereka tidak sadar bahwa versi itu menjelaskan bagaimana ciptaan akan terjadi, seandainya naskah itu ditulis menurut penalaran insani yang berdasarkan ketentuan-ketentuan kebendaan. Pancaindera kebendaan hanya melihat apa yang bersifat kebendaan, terbatas, fana. Jadi jika kita melihat ke sekeliling kita tanpa lensa rohaniah untuk membetulkan pandangan kita, maka akan terlihat seolah-olah orang tidak dapat dipercaya, dan alam terus berubah-ubah tanpa dapat diramal dan bersifat merusak—dan bahwa Allah tidak hadir, tidak bersedia menolong, atau dapat diperdaya. Naskah tentang ciptaan dalam bab 1 Kitab Kejadian tidak berceritera tentang ular yang berbicara, orang yang bersalah, buah yang menggoda, dan ulah yang licik, seperti dalam bab 2, oleh karena itu ada kecenderungan bab itu terlewatkan. Namun, perhatikanlah makna naskah yang pertama itu, ketika Allah menciptakan kita dalam gambar dan rupaNya (lihat ayat 26). Betapa jauh lebih mulia substansi ciptaan ini, dibandingkan dengan sampah atau “debu tanah” seperti yang dinyatakan dalam bab 2. Tidak mengherankan bahwa ciptaan yang berdasarkan debu akan tunduk kepada motif-motif yang merugikan, seperti kebencian dan balas dendam. Angin dan ombak dalam perjalanan waktu terus-menerus merobohkan bangunan pongah ciptaan fana, seolah-olah bangunan itu istana yang terbuat dari pasir. Namun Yesus, guru sekalian orang Kristen, memberikan “rumah yang didirikan di atas batu” sebagai model untuk mempertahankan stabilitas dan perlindungan (lihat Matius 7:24). Ia meyakinkan pengikut-pengikutnya, bahwa dasar rohaniah yang demikian akan bertahan, meskipun diterpa badai angin kencang. Definisi kata gunung batu dalam buku Ilmupengetahuan dan Kesehatan dengan Kunci untuk Kitab Suci karangan Mary Baker Eddy mencakup istilah “dasar yang rohaniah” dan “Kebenaran” (hlm. 593). Dasar yang rohaniah yang terdiri atas fakta mutlak akan sifat rohaniah Allah, tak tergoyahkan, abadi, dan aman. Bila keyakinan kita tergoncang oleh banjir kemarahan, angin perubahan, kejutan tiba-tiba oleh serangan atau kekacauan dalam bentuk apa pun juga, maka berpaling kepada fakta-fakta rohaniah akan ciptaan Allah yang tidak berubah-ubah dan selaras memberikan tempat berpijak yang pasti untuk memperoleh iman akan kebaikan ciptaan. Memahami fakta-fakta itu tidak hanya menjadikan kita mampu bertahan terhadap serangan, tetapi juga tetap mendatangkan berkat bagi dunia di sekitar kita. Hal itu merupakan kegiatan mental—dengan sadar dan tetap, berpegang teguh pada kebenaran wujud yang rohaniah, betapa pun besar kekacauan yang dilaporkan oleh pancaindera kebendaan. Fokus yang tetap ini menguatkan kemampuan budi manusia untuk melihat keselarasan di tengah-tengah kekacauan. “Tujukanlah pikiran dengan tetap kepada yang kekal, yang baik, dan yang hakiki,” demikian nasihat Mary Baker Eddy, “maka makin dipenuhi pikiran kita dengan hal itu, makin banyak kita akan mengalaminya dalam kehidupan kita” (Ilmupengetahuan dan Kesehatan, hlm. 261). Pasti hal itu sederhana. Tetapi tidak selalu mudah. Kelima pancaindera terus-menerus memperhadapkan kita pada sinyal-sinyal marabahaya dan keterbatasan. Seperti pada waktu kita menonton film yang sangat menyeramkan, emosi dan reaksi kita yang kebendaan seakan-akan membenarkan kesejatian kejahatan. Itulah sebabnya penting untuk bersifat “tetap” dalam tugas kita untuk menujukan pikiran pada apa yang secara rohaniah benar. Tentu saja hal itu memerlukan usaha, namun merupakan penghiburan bagi kita untuk mengetahui, bahwa usaha yang demikian membuahkan hasil sebanding dengan taraf perhatian yang kita curahkan untuk mempertahankan fokus yang rohaniah. Suatu ceritera tentang Petrus, murid Yesus, dalam Buku Perjanjian Baru menjelaskan hal itu. Menurut Injil Matius, Yesus datang, dengan tenang berjalan di atas air yang menggelora menuju perahu murid-muridnya. Ia memanggil Petrus untuk datang kepadanya. Petrus keluar dari perahu dan mula-mula ia berjalan di atas air, dengan mantap dipusatkannya seluruh perhatiannya kepada Yesus. Karena selama ia tetap memusatkan perhatiannya kepada Yesus, ia akan berhasil. Tetapi kemudian Petrus mengalihkan perhatiannya dari idealnya—dan “ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: ‘Tuhan, tolonglah aku!’ ” (14:30). Yesus tidak membiarkan Petrus tunduk pada kesalahannya, melainkan mengulurkan tangannya dan membimbingnya kembali ke perahu. Betapa indah penjelasan tentang kesediaan Kasih ilahi ini yang siap untuk mengasihi dan menjaga kita, cukup untuk melindungi kita, bahkan terhadap diri kita sendiri! Itulah jaring pengaman kita yang dapat diandalkan. Meskipun merupakan keharusan bagi kita untuk berusaha mempertahankan fokus pada kesejatian rohaniah, dan hidup sesuai dengan fokus itu, tidak pernah ada hukuman atau kegagalan. Setiap kesalahan hanyalah merupakan pelajaran atau berkat. Kita selalu bergerak maju dari tempat itu dan secara rohaniah menjadi lebih bijaksana. Sebenarnya merupakan maksud Kasih ilahi untuk membangunkan kita dan menyadari kemungkinan-kemungkinan yang tidak berhingga, bila kita hidup dalam Roh. Jadi, bahkan kegagalan dan ketidakselarasan dapat merupakan sangkakala panggilan untuk menggandakan usaha kita dalam mengidentifikasi diri kita dengan benar sebagai keturunan Allah yang terkasih. Saya mengetahui pelajaran yang mendatangkan berkat itu beberapa tahun yang lalu, ketika rasa sakit pada saluran kemih saya menyebabkan begitu banyak ketidaknyamanan sehingga saya takut untuk menggerakkan tubuh saya. Setelah gagal dalam perjuangan saya untuk menyelesaikan keadaan itu dengan doa—namun dengan mempertahankan pikiran saya tetap terfokus pada kebenaran akan naskah rohaniah tentang ciptaan, dalam penerapannya untuk diri saya—saya menelefon seorang penyembuh Christian Science untuk mendapat pertolongan. Profesi seorang penyembuh ialah mengulurkan tangan secara mendoa, dengan mengikuti teladan Yesus untuk menolong orang-orang yang berjuang untuk keluar dari tiupan angin akan rasa sakit dan ketakutan. Meskipun penyembuh dengan lemah lembut menyampaikan kepada saya kebenaran-kebenaran rohaniah yang sebetulnya sudah saya ketahui dan sudah saya pergunakan berkali-kali sebelumnya (bahwa saya dijaga, dikasihi, dan dilindungi oleh Allah, Ibu-Bapa saya yang hadir di mana-mana), pada waktu itu kata-kata itu mempunyai kekuasaan istimewa. Hal itu tidak hanya disebabkan karena keinginan saya yang meningkat berkenaan dengan rasa sakit yang saya derita, untuk menerima bahwa saya dikasihi dan dijaga, tetapi mungkin terutama karena pikiran penyembuh sendiri yang terfokus pada kebenaran yang tidak berhingga di balik kata-katanya. Dengan segera keyakinannya menjadi keyakinan saya. Rasa sakit mereda, dan saya dapat menggerakkan tubuh saya kembali seperti biasa. Rasa sakit sering terlupakan dengan mudah. Penyembuhan itu mungkin dapat terselip di bawah permadani indah penyembuhan-penyembuhan lain dalam hidup saya sebagai pelajar Christian Science, seandainya tidak terjadi sesuatu yang menarik perhatian saya selama saya mendapat pertolongan secara mendoa. Belum lama sebelum itu telah beredar publikasi-publikasi yang berisi kecaman yang tajam dan tidak benar tentang diri saya. Permusuhan yang demikian tentu saja tidak mempunyai kekuasaan dalam dirinya untuk menimbulkan kerugian. Tetapi bila kita tidak menggantikan saran-saran negatif yang datang kepada pikiran kita dengan apa yang hakiki, saran-saran itu nampaknya dapat menimbulkan gangguan kesehatan. Ketika saya mendengar tentang kecaman-kecaman itu, saya mendoa dengan pernyataan yang lebih kuat tentang kebenaran, bahwa saya sudah berada “dalam lindungan” penjagaan dan pengayoman Kasih ilahi (lihat Mazmur 91). Karena dengan tidak sengaja membiarkan permusuhan menguasai pikiran saya, saya kehilangan pandangan akan nasihat Mary Baker Eddy kepada orang-orang yang memijakkan langkah pada jalan rohaniah yang dirintisnya: “Para pelajar Christian Science yang tercinta, jagalah pikiranmu agar tetap dipenuhi oleh Kebenaran dan Kasih, sehingga dosa, penyakit, dan maut tidak dapat memasukinya. . . . Pikiran-pikiran baik merupakan baju zirah yang tidak akan tertembus; dengan menyandangnya, kita sepenuhnya terlindung dari setiap jenis serangan kejahatan. Dan bukan hanya kita sendiri yang aman, melainkan setiap orang yang terangkum dalam pikiran kita akan memperoleh manfaatnya” (The First Church of Christ, Scientist, and Miscellany, hlm. 210). Bila pikiran kita dipenuhi oleh kebenaran akan kasih Allah yang terus-menerus dan tanpa syarat kepada setiap orang di antara kita—dan semua ciptaan—kita akan selamat. Betapa besar berkat yang kita peroleh dengan mengetahui, bahwa setiap orang dijaga, dikasihi, dan dilindungi oleh hukum Kasih ilahi yang tidak berubah-ubah dan universal. Mario Tosto adalah editor penyumbang. Ia seorang penyembuh dan guru Christian Science yang tinggal di Danville, California, A.S. Langkah awal suatu awal yang baru Mary Trammell Sejak Badai Katrina menerjang Pantai Teluk Meksiko di Amerika Serikat pada tanggal 29 Agustus 2005, berjuta-juta orang berjuang untuk mengatasi kepedihan dengan kepergian sanak keluarga serta kerusakan yang ditimbulkan oleh badai itu—dan menemukan jalan untuk bergerak maju ke depan. Dengan dilakukannya upaya-upaya untuk membangun kembali kehidupan dalam keluarga dan tempat tinggal, bisnis dan prasarana, maka secara mendoa berpegang teguh pada kekuasaan dan pemeliharaan ilahi mempunyai makna yang tidak berhingga besarnya. Artikel ini dimulai sebagai suatu percakapan di Sentinel Radio. Alkitab memberi begitu banyak contoh tentang orang-orang yang karena sesuatu hal berputus asa. Orang-orang yang berpaling kepada Allah, dan secara pasti menerima pertolongan Allah. Orang-orang yang sakit, atau sedang menghadapi ajal, atau dalam penjara, atau dalam pembuangan, dalam perbudakan, yang kehilangan orang-orang yang mereka cintai. Mungkin mereka merasa seorang diri dalam menghadapi kesedihan mereka, tetapi kemudian mereka menemukan bahwa mereka tidak seorang diri. Allah dengan segenap kasihNya ada bersama mereka. Ia tidak pernah akan meninggalkan mereka. Salah satu ceritera tertua dalam Alkitab mengisahkan seorang laki-laki yang bernama Ayub. Ia dan isterinya kehilangan ladang mereka, kawanan ternak mereka, keluarga mereka. Segala-galanya. Akhirnya Ayub mencapai titik puncak keputusasaannya ketika ia hendak menyerah—mengutuk Allah lalu mati. Tetapi dalam segala kesulitan itu, Allah berbicara kepada Ayub. Ia datang kepada Ayub dan berbicara kepadanya dari dalam badai yang besar. Dan sekonyong-konyong hal itu menyalakan cahaya kasih dan pengharapan dalam hatinya. Ayub berpaling kepada Allah dengan sepenuh hati—ia bahkan mendoa bagi orang-orang yang berbalik melawan dirinya dalam kesukarannya. Hal itu merupakan langkah awal suatu awal yang baru bagi Ayub. Dan dari situ, sedikit demi sedikit, hidup Ayub mengalami perubahan. Hal yang satu membuka jalan bagi hal yang lain, dan segala-galanya pulih seperti semula bagi Ayub. Ia dan isterinya juga mendapat banyak anak lagi, kawanan ternak yang lebih besar, ladang yang baru—dua kali lipat dari segala yang mereka miliki sebelumnya. Dalam Alkitab diceriterakan, “Lalu TUHAN memulihkan keadaan Ayub, setelah ia meminta doa untuk sahabat-sahabatnya, dan TUHAN memberikan kepada Ayub dua kali lipat dari segala kepunyaannya dahulu” (Ayub 42:10). Hal itulah yang sangat diinginkan oleh para penulis Alkitab bagi anak cucu mereka—dan semua orang di antara kita yang membaca apa yang terjadi atas mereka—untuk memahaminya. Bahwa Allah tidak pernah akan meninggalkan kita—di mana pun kita berada, apa pun yang terjadi. Bagaimanapun buruknya keadaan. Salah seorang penyair dalam Alkitab menyatakannya sebagai berikut: “Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau. Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku” (Mazmur 139:8-10). Ayah saya terus-menerus menceriterakan kepada saya suatu ceritera yang semacam itu selama saya dibesarkan. Dan saya juga mendengarnya menceriterakan hal itu kepada banyak orang lain. Ceritera itu sebuah kisah nyata tentang bagaimana Allah menolongnya pada saat, ketika hilang segala pengharapannya. Saya kira ia ingin menekankan sesuatu yang tidak pernah akan saya lupakan. Nah, ia berhasil dalam hal itu. Dan inilah yang ingin ia tekankan: Bahwa betapa pun musykil nampaknya keadaan yang kita hadapi, Allah akan selalu berada di sana untuk kita. Ia begitu dekat dengan kita, sedekat pikiran kita sendiri. Apa yang harus kita lakukan ialah berpaling kepadaNya. Ia akan menunjukkan kepada kita jalan keluar, jalan untuk membalikkan seluruh keadaan. Jalan untuk memulai dari awal. Ayah saya berceritera kepada saya, bahwa waktu ia berusia 19 tahun, ia kehilangan kedua orang tuanya, demikian pula satu-satunya kakek yang masih ada. Itu saja sudah merupakan masalah sulit yang perlu dihadapi. Tetapi mereka juga meninggalkan warisan yang besar, dan ia tidak tahu bagaimana mengelolanya. Demikianlah, sesudah kira-kira sepuluh tahun, ia terjerumus dalam pergaulan yang kurang sehat, dan terus menghabiskan uangnya untuk berganti-ganti mobil, investasi yang merugi, dan hidup berbiaya tinggi. Dan minuman beralkohol. Banyak sekali minuman beralkohol. Akhirnya, seluruh warisan itu pun habis. Ia tidak mempunyai apa-apa lagi, kecuali sebuah mobil tua. Ia seorang pecandu alkohol dan perokok berat. Akhirnya para dokter yang merawatnya mengatakan, bahwa ia hanya akan bertahan hidup beberapa bulan saja, sehubungan dengan gangguan pada perutnya yang telah dioperasi beberapa kali, namun tidak berhasil menyembuhkannya. Ayah saya sampai pada pendirian, bahwa ia tidak mau menunggu lagi sampai ajalnya tiba. Demikianlah, pada suatu hari ia berada di pinggir Sungai Arkansas, siap untuk meloncat—dan mengakhiri hidupnya. Namun, pada saat itulah, ketika ia berdiri di sana, sekonyong-konyong ia teringat akan sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak pernah dipikirkannya lagi. Hal itu menyangkut sesuatu yang dikatakan oleh gurunya, ketika ia mengikuti Sekolah Minggu Christian Science selama beberapa tahun, pada waktu remaja. Guru itu mengatakan, “Tidak ada suatu keadaan pun yang terjadi pada kita—bagaimanapun buruk keadaannya—ketika Allah tidak dapat menolong kita. Ketika Christian Science tidak dapat menolong kita dan menyembuhkan kita.” Dengan pikiran yang penuh pengharapan itu, yang datang sekonyong-konyong entah dari mana, ayah saya kembali ke mobilnya dan berkendara sepanjang malam langsung ke kampung halamannya di Louisville, Kentucky, untuk menemui guru Sekolah Minggu itu. Saya dapat membayangkan betapa lusuh penampilannya, ketika ia berhasil menemukan alamat guru Sekolah Minggu itu dan akhirnya sampai di depan pintu rumahnya keesokan harinya. Ia menemukan nama itu di buku telefon sebagai penyembuh Christian Science. Dan setelah mencurahkan seluruh isi hatinya kepadanya, ayah saya bertanya, “Menurut Ibu, dapatkah Christian Science menyembuhkan saya?” Apa yang dikatakannya kepada ayah saya sedikit banyak masih tetap membuat saya takjub. Ia berkata, “Anakku, engkau SUDAH sembuh.” Dan bagaimana juga ayah saya begitu saja menerima hal itu sebagai fakta. Bahwa ia SUDAH sembuh. Bahwa ia dapat memulai hidup yang sama sekali baru, seketika itu juga, di tempat itu juga. Hidup yang dibuat baru oleh Allah. Saya merenungkan pandangan rohaniah apa yang dipunyai penyembuh itu—melihat lebih dalam dari apa saja yang dilihatnya secara lahiriah tentang ayah saya (mungkin ia tidak tidur semalaman atau tidak mencukur wajahnya, dan entah apa lagi) dan melihatnya sebagai anak Allah yang sejati. Anak yang dicipatakanNya. Murni, tegak, utuh. Begitu dikasihi Allah. Sama sekali tidak tersentuh oleh alkohol dan penyakit dan kegagalan dan tragedi. Pandangan yang murni tentang manusia ciptaan Allah itu menyembuhkan ayah saya seketika itu juga. Hal itu memberinya awal yang sama sekali baru dalam hidupnya. Mula-mula teman-teman dan keluarganya hampir-hampir tidak dapat percaya, namun sejak itu ayah saya tidak pernah minum alkohol lagi. Tidak pernah merokok lagi. Dan gangguan di perutnya pun sembuh sama sekali. Namun perubahan yang hampir-hampir tidak dapat dipercaya ialah, bagaimana ia menjalani hidupnya sesudah itu. Ia bertemu dengan ibu saya dan mereka pun menikah, membangun keluarga. Dan yang paling penting, ia membaktikan sisa hidupnya kira-kira selama 50 tahun—untuk menolong dan menyembuhkan ratusan dan ratusan orang melalui doa, sebagai penyembuh Christian Science, dengan jalan yang sama sebagaimana ia sendiri telah ditolong. Ia menjalani hidupnya untuk melakukan hal itu. Ia menolong begitu banyak orang yang berputus asa, seperti yang dulu dialaminya—secara finansial, atau berkaitan dengan kesehatan atau masalah keluarga, atau ketergantungan obat. Ia membantu mereka untuk memulai dari awal dengan menemukan hidup yang baru dalam kasih Allah, penjagaan Allah. Itulah yang ingin saya sampaikan dari lubuk hati saya kepada orang-orang yang berhasil diselamatkan dari Badai Katrina: Mungkin Anda merasa hancur lebur saat ini—tetapi bertahanlah. Bersama Allah selalu ada jalan untuk terus maju. Dan Allah BERADA di tempat Anda berada, begitu dekat. Mary Baker Eddy yang tentu saja harus bangkit dari tragedi yang bertubi-tubi dalam hidupnya, suatu kali menulis kepada isteri Presiden McKinley, sesudah pembunuhan suaminya, “Kasih ilahi tidak pernah begitu dekat kepada kita, seperti ketika segala sukacita duniawi nampaknya begitu jauh” (The First Church of Christ, Scientist, and Miscellany, hlm. 290). Dalam keadaan sangat terjepit, ketika segala sesuatu nampaknya teramat buruk, pada waktu itulah kadang-kadang kita mendengar suara Allah dengan sangat jelas. Hampir-hampir dapat kita katakan, bahwa kasih Allah mengejar kita. Kasih Allah bersinar menembus hati kita dan menghangatkan hati kita—seperti yang terjadi pada ayah saya, dan pada Ayub. Dan dengan sesuatu cara, Allah, Kasih ilahi, mengatakan kepada kita, “Jangan menyerah. Setiap kali berjalanlah selangkah, tetapi ambillah langkah-langkah itu bersamaKu. Aku mengasihimu, dan Aku akan membimbingmu. Aku akan berada tepat di sampingmu, sementara engkau membangun kembali dan mengatur kembali dan memulai lagi dari awal. Oleh karena itu, percayalah kepadaKu, terimalah bahwa engkau adalah putera atau puteriKu yang terkasih—dan biarkanlah kasihKu menyembuhkanmu, dan mengubahmu, dan membuatmu baru.”
Bagaimana Anda dapat berlangganan BentaraBentara Christian Science diterbitkan setiap triwulan. Harga berlangganan ialah US$14 setahun atau US$25 untuk dua tahun. Untuk berlangganan, kirimkanlah pembayaran dalam mata uang Indonesia kepada Perwakilan Bendaharawan: Bpk. Noerhadi Prodjosoedomo
Jalan Teuku Cik Ditiro 48
Anda juga dapat berlangganan dengan mengirimkan pembayaran dalam mata uang US dolar kepada:
The Herald of Christian Science
Pembayaran-pembayaran dalam mata uang US dolar harus dengan menggunakan check suatu bank Amerika Serikat atau melalui pembayaran dengan "American Express."
| |||
|
About Christian Science | About the Church | Weekly Lesson-Sermon | Publications and Broadcasts | Giving | Media | Boston Activities | Science and Health with Key to the Scriptures | Mary Baker Eddy Worldwide Directory | Multilingual | Job opportunities | Contact | Home http://www.churchofchristscientist.org Web site © The First Church of Christ, Scientist in Boston, Massachusetts, USA All rights reserved Privacy Policy | Terms of Service |